SELAMAT DATANG DI SMK TUNAS KARYA COMAL | SMK T.K

Login Member

Daftar | Lupa Password?
AGENDA KEGIATAN
18 July 2019
M
S
S
R
K
J
S
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
MATERI AJAR BARU
KONTAK ONLINE
  Visitors : 30219 visitors
  Hits : 11899 hits
  Today : 54 users
  Online : 2 users
VOTE PENDAPAT
Kegiatan Ekstrakurikuler manakah yg kalian minati?
Pramuka
PKS
PMR
Rebana
Karya Ilmiah
Renang
Basket
Taekwondo
Tenis Meja
Futsal
Sepakbola
Badminton
Internet Marketing
  Lihat

Makin Canggih Ponsel, Malah Makin Tidak Aman?

Tanggal : 29-05-2015 02:43, dibaca 186 kali.

Jakarta - Teknologi smartphone terus berkembang. Baru kemarin rasanya kita pakai prosesor dual core, tahu-tahu sudah quad core dan bahkan octa core. Memang sih, ponsel jadi lebih kencang. Namun jika tak waspada, banyak celah keamanan yang bisa dibobol oleh para hacker jahat.

Menurut Sofran Irchamni, Managing Director BlackBerry Indonesia‎, semakin kencang prosesor yang ada di smartphone kita, bisa saja semakin mempermudah upaya hacker untuk mengeksploitasinya.

Salah satunya terletak pada jumlah core yang semakin banyak. Logikanya adalah semakin banyak core milik sebuah ponsel, maka perangakat genggam itu mampu memproses perintah yang lebih rumit.

"Aplikasi yang bisa dibikin oleh hacker jadi semakin rumit. Kecepatan perangkat yang mereka tunggangi untuk memproses password pun jadi semakin tinggi," ujarnya dalam pertemuan dengan media di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (28/5/2015).

Bayangkan jika ponsel tersebut terhubung dengan server dan tersuplai dengan data-data penting sebuah perusahaan. Peretas yang berhasil menjebol keamanannya juga akan punya kesempatan untuk mengambil data tersebut.

"‎Buat perusahaan yang mengusung BYOD, tentu ini sangat berbahaya," lanjut pria lulusan Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

BYOD alias bring your own device tengah jadi tren. Perusahaan sekarang banyak yang mengizinkan pegawainya menggunakan perangkat milik sendiri untuk menunjang pekerjaan.

Di satu sisi, kebijakan BYOD ini mengurangi cost perusahaan dalam hal penyediaan perangkat. Namun di sisi lain, membahayakan nasib perusahaan. ‎Apalagi jika perangkat itu hilang atau tercuri, data perusahaan yang ada di dalamnya bisa ‎disalahgunakan.

"Menurut survei, 68% percaya bahwa titik paling lemah dalam sebuah keamanan enterprise ada di mobile device. Itu survei global, di Indonesia lebih parah lagi. Banyak CIO perusahaan yang saya wawancarai, ternyata kurang memprioritaskan keamanan di ponsel. Makanya gampang dihack," sesal Sofran.

BlackBerry sendiri baru saja memperkenalkan layanan Blackberry Enterprise Service (BES) 12 yang dapat membantu pengamanan gadget di kalangan enterprise. Melalui solusi tersebut, perusahaan bisa mengamankan data-data sensitif yang ada dalam perangkat genggam karyawannya.

Salah satu cara kerja BES ini adalah dengan membuat dua unit kontainer di dalam satu perangkat. Satu kontainer ditujukan untuk penggunakan pribadi pemilik gadget, satu kontainer lainnya dipakai sebagai wadah data-data sensitif milik perusahaan.

Dengan demikian, katakanlah seorang peretas berhasil memasukkan ransomware ke dalam gadget milik karyawan, maka program jahat itu hanya akan menyandera kontainer pribadi pengguna.

Kontainer kedua yang berisi data-data perusahaan tidak akan dapat diutak-atik karena dikendalikan oleh admin khusus. Aplikasi-aplikasi hingga isinya pun hanya bisa diubah oleh admin itu.



Pengirim : http://inet.detik.com/read/2015/05/28/191110/2928068/317/makin-canggih-ponsel-ma
Kembali ke Atas

ARTIKEL LAINYA:
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas